PENCARIAN
Kategori
WEBSITE TERKAIT
DOWNLOAD
Edaran
Aplikasi
e-library
Presentasi
Undangan
VIDEO KEGIATAN

21
FORUM

Jl. Percetakan Negara No. 29, Kotak Pos 223, Jakarta 10560 - Indonesia


Phone : 62214247608
Fax : 62214247807

BERITA - BERITA TERBARU

Meningkatkan Hubungan, Komunikasi dan Kepedulian dalam Keluarga terhadap Pencegahan Bunuh Diri
2016-11-09 19:59:40

Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara. Federasi Kesehatan Mental Dunia menyampaikan pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Tahun 2016, bahwa satu dalam setiap 40 detik terjadi tindakan bunuh diri di dunia. Ditingkat global, menurut WHO tahun 2012 bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor dua terbanyak pada kelompok usia 15 – 29 tahun. Oleh karena itu, sehat jiwa, raga, sosial dan spiritual mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian bunuh diri.

 

Karena tindakan bunuh diri ini merupakan salah satu masalah kesehatan jiwa yang harus dicegah, maka dalam rangka Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh setiap tanggal 10 September, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA menyelenggarakan Lokakarya dengan tujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah kesehatan jiwa yang dapat mengakibatkan kejadian bunuh diri dan meningkatkan pemahaman keluarga dan masyarakat mengenai faktor risiko dan deteksi dini kecendrungan terjadinya tindakan bunuh diri, serta langkah-langkah pertolongan pertama psikologis sebagai upaya mencegah tindakan bunuh diri. Demikan disampaikan Direktur P2MKJN Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH selaku Ketua Panitia dalam laporannya, pada (2/11) di Kantor Kemenkes Jakarta.

 

Lanjutnya, keinginan atau tindakan bunuh diri tidak terjadi begitu saja, dapat dipengaruhi dengan berbagai faktor yang berperan hingga seseorang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang dipilihnya. Untuk itu dalam pencegahan tindakan bunuh diri, maka pada keluarga, guru dan masyarakat perlu ditanamkan makna dan nilai-nilai kesehatan jiwa sejak dini di awal kehidupannya, sehingga dapat mengurangi atau mencegah terjadinya peristiwa bunuh diri. Peran keluarga dan masyarakat juga dapat diberdayakan untuk mendeteksi dan memberi dukungan psikologis awal orang yang dalam kondisi krisis melakukan tindakan bunuh diri serta merujuknya ke fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini merupakan langkah penting dalam pencegahan dan pengendalian bunuh diri serta sesuai dengan tema yang diangkat pada peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia Tahun 2016 yaitu “Meningkatkan Hubungan, Komunikasi dan Kepedulian dalam Keluarga terhadap Pencegahan Bunuh Diri”.

 

Kejadian bunuh diri di Indonesia cenderung semakin banyak dilaporkan melalui media massa. Data kepolisian menunjukkan ada sebanyak 981 kasus kematian karena bunuh diri pada tahun 2012 dan 921 kasus pada tahun 2013, sedangkan pada bulan Februari 2014, dilaporkan sudah 457 kasus kematian akibat bunuh diri ini. Keadaan ini menunjukkan  adanya  kecenderungan peningkatan tajam angka bunuh diri di tanah air kita.  Padahal angka tersebut belum mencakup kejadian bunuh diri yang tidak terlaporkan.

 

Data WHO tahun 2012 menyatakan bahwa hasil penelitian selama 10 tahun di 172 negara menunjukkan lebih dari 800.000 orang di lingkup  global melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Pada tahun yang sama, estimasi WHO menunjukkan bahwa kejadian bunuh diri di Indonesia adalah  4,3% per 100.000 populasi. Kemudian hasil penelitian ekstrapolasi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI pada tahun 2014, menunjukkan bahwa angka kejadian bunuh diri di Indonesia adalah  1,77 per 100.000 penduduk.

 

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) dalam sambutannya saat membuka acara mengatakan rentang usia pelaku bunuh diri ini mencakup kelompok umur remaja dan dewasa muda. Kelompok umur ini dalam perkembangannya rentan dalam menghadapi masalah pribadi, lingkungan yang berhubungan dengan identitas diri, kemandirian, situasi dan kondisi di rumah, lingkungan sosial,  serta hak dan kewajiban yang dibebankan oleh orang tua mereka. Keadaan ini terjadi, karena periode transisi dari masa kanak-kanak ke dunia remaja yang merupakan fase tumbuh kembang secara biologis yang bergejolak, menemukan identitas diri serta pembentukan kepribadiannya.

 

Untuk itu, menkes menghimbau untuk dapat memberikan :1) komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat agar dapat memberikan pertolongan pertama dan dukungan psikologis awal bagi percobaan bunuh diri; 2) Penyediaan fasilitas minimal di Puskesmas untuk mengatasi keadaan gawat darurat; 3) Pelatihan penatalaksanaan percobaan bunuh diri bagi dokter dan perawat Puskesmas; 4) menyediakan “hotline service” yang dapat dihubungi 24 jam; 5) menyiapkan layanan rujukan untuk melakukan penatalaksanaan spesifik dan efektif terhadap survivor percobaan bunuh diri di RS Rujukan Regional dan melaporkannya ke polisi; 6) memperbaiki pelayanan gawat darurat dengan cara memperkuat fasilitas dan sumber daya untuk pengobatan; 7) melatih tenaga medis, kader dan masyarakat untuk memberikan pelayanan paska rawat (“after care”) bagi penyintas bunuh diri; 8) upaya pembinaan dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan jiwa Anak Usia Sekolah dan Remaja melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS); 9) disediakan pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) bagi remaja  usia 10 -18 tahun dengan layanan khusus konseling, komunukasi informasi dan edukasi, serta pemberdayaan remaja menjadi konselor sebaya; 10) bersama Balitbangkes mengadakan Survei Kesehatan Berbasis Sekolah/Global School Based Health Survey (GSHS), yakni survei untuk melihat besaran masalah yang spesifik pada anak SMP dan SMA dengan rentang usia 12 – 18 tahun; 11) memberikan Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) yang terdiri dari 10 kompetensi yaitu harga diri, empati, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, berfikir kreatif, berfikir kritis, komunikasi efektif dan asertif, hubungan interpersonal, mengendalikan emosi dan mengatasi stres; dan 12) pelatihan keterampilan sosial (life skill) untuk melatih siswa SMP dan SMA.

 

Kegiatan lokakarya ini dihadiri sebanyak 250 orang yang terdiri dari 2 sasaran utama. Pertama, pemangku kepentingan mulai dari eselon I dan II Kementerian Kesehatan, Lintas Sektor, Akademisi, Organisasi Profesi, Organisasi Masyarakat, LSM, sektor swasta, Media dan Lembaga Mitra. Diharapkan dapat mendukung kebijakan untuk pemenuhan kebutuhan serta penanganan terhadap tindakan bunuh diri. Kedua, kelompok masyarakat peduli masalah kesehatan jiwa yang diharapkan mereka dapat mengoptimalkan pendekatan melalui keluarga dalam pencegahan bunuh diri. Hadir juga pada kesempatan tersebut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM. Selain itu lokakarya ini juga menghadirkan berbagai narasumber yang berkompeten di bidangnya antara lain dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, tokoh agama, perwakilan dari jurnalis media massa, perwakilan dari bidang kesehatan jiwa, perwakilan dari ahli psikologi, dan penyintas.

 

dr. Fidiansjah berharap melalui lokakarya ini dapat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap masalah kesehatan jiwa, terutama yang bisa mengakibatkan tindakan bunuh diri dan berharap dapat juga menjadi sarana informasi kepada masyarakat mengenai pencegahan tindakan bunuh diri dan meningkatkan pemahamam masyarakat dalam upaya penanganan individu dengan masalah kesehatan jiwa agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih baik.(Adt/Dvi/Humas)