PENCARIAN
Kategori
WEBSITE TERKAIT
DOWNLOAD
Edaran
Aplikasi
e-library
Presentasi
Undangan
VIDEO KEGIATAN

21
FORUM

Jl. Percetakan Negara No. 29, Kotak Pos 223, Jakarta 10560 - Indonesia


Phone : 62214247608
Fax : 62214247807

BERITA - BERITA TERBARU

Sosialisasi Pedoman Pencegahan dan Pengendalian (P2) Penyakit Virus Zika
2016-11-14 16:31:17

Virus Zika merupakan salah satu jenis arbovirus dari genus Flavivirus, yang pertama kali teridentifikasi pada 1947 dan ditemukan pada air liur monyet pada sebuah studi demam kuning. Pertama kali menginfeksi manusia pada 1952 di Uganda dan Tanzania. Kejadian Luar Biasa (KLB) virus zika pertama kali dilaporkan pada 2007 di wilayah pasifik (Yap), Kemudian dilaporkan KLB di wilayah Asia, Afrika, Regional western pacific, dan yang paling akhir terjadi di Amerika.

 

Pada 1 Februari 2016, World Health Organization (WHO) menetapkan Zika sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD)/Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), artinya masalah Zika menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang memerlukan kerja sama Internasional dalam penanggulangannya.

 

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM saat menyampaikan sambutan dan arahan pada pembukaan Sosialisasi Pedoman Pencegahan dan Pengendalian (P2) Penyakit Virus Zika, pada (10/11) di Bekasi.

 

Sosialisasi Pedoman P2 Penyakit Virus Zika di selenggarakan oleh Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI sebagai langkah-langkah antisipasi terhadap ancaman penyakit virus zika yang dapat merusak sumber daya negara dan bangsa. Upaya yang dapat dilakukan secara umum adalah pengendalian penyakit virus Zika melalui kesiapsiagaan, kewaspadaan dini, dan respon. Sosialisasi ini diikuti oleh para Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Seluruh Indonesia, Kepala Bidang Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (B/BTKLPP) seluruh Indonesia, Kepala Bidang KKP Kelas I Soekarno Hatta dan Tanjung Priok.

 

Sejak 1 Januari 2007 hingga 27 Oktober 2016 telah terjadi kasus virus Zika di 73 negara melalui transmisi vektor dan 12 negara melalui transmisi non-vektor (melalui hubungan seksual). Sampai saat ini, terlaporkan  jumlah kasus mikrosefali akibat virus Zika sebanyak 2.197 kasus di 23 negara.

 

Di Indonesia, kasus kumulatif konfimasi virus Zika sejak 2013 s.d. 24 Oktober 2016 sebanyak 2 kasus (1 kasus positif di Jambi 2013 yang dilaporkan oleh lembaga Eijkman dan 1 kasus positif WN Indonesia terdeteksi di China Taipei Juni 2016). Sementara negara tetangga kita, yaitu Singapora, total kasus yang dilaporkan sampai dengan 4 November 2016 sebanyak 442 kasus. Selama KLB yang terjadi di French Polynesia pada tahun 2013-2014 terjadi peningkatan kasus Guillain Barr%u0450 Syndrome (GBS) dan gangguan neurologis lainnya yang diketahui berhubungan dengan infeksi Zika. Selain itu pada KLB yang saat ini terjadi di Amerika juga ditemukan adanya hubungan virus Zika dengan beberapa kejadian gangguan neurologis. Selain itu, terdapat pula hubungan antara peningkatan infeksi virus zika dengan kejadian mikrosefalus pada bayi baru lahir dan gangguan neurologis lain serta tingginya potensi penyebaran.

 

Oleh karena itu, Kata dr. Subuh di kesempatannya berharap agar para peserta yang hadir dapat melakukan beberapa hal, antara lain : 1) Tingkatkan promosi kepada masyarakat, khususnya kepada para pelaku perjalanan dari dan ke Singapura sebagai negara terjangkit Zika dengan mobilitas penduduk sangat tinggi, dan masyarakat pelabuhan/bandara terkait; 2) Tingkatkan kewaspadaan di pintu masuk negara; 3) Tingkatkan komunikasi dan koordinasi dengan lintas program dan lintas sektor, antara KKP dengan Maskapai Penerbangan dan Operator Kapal Laut terkait tentang pelaksanaan pemberian Health Alert Card (HAC) di atas alat angkut kepada para pelaku perjalanan dari Singapura, termasuk pemberian informasi tentang cara dan maksud pengisiannya; 4) Pantau perkembangan situasi penyakit virus Zika di dunia melalui website WHO; 5) Siapkan laboratorium yang mampu untuk konfirmasi virus Zika; 6) Tingkatkan surveilans vektor dan surveilans kasus yang telah terbentuk dan dilaksanakan di seluruh Indonesia dengan memanfaatkan sistem yang ada untuk pengendalian DBD; 7) Capai indeks jentik dan populasi nyamuk Aedes aegypti di semua pintu masuk negara adalah nol; 8) Manfaatkan Rumah Sakit Rujukan Regional/Nasional yang ada di Indonesia untuk tata laksana kasus zika; 9) Suplay dan distribusi logistik untuk pengendalian vektor dengan memanfaatkan logistik untuk pengendalian vektor DBD; 10) Laksanakan dan terapkan prosedur kekarantinaan dan surveilans kesehatan di pintu masuk negara dan wilayah; dan 11) Jika ditemukan adanya kasus penyakit virus Zika di Pintu Masuk Negara, segera laporkan ke Posko KLB Ditjen P2P ≤ 24 jam, serta menginformasikan kepada Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota setempat.

 

Dalam International Health Regulation (IHR) 2005 tercantum bahwa setiap negara anggota harus mempunyai kemampuan utama dalam deteksi dini dan respon cepat terhadap munculnya penyakit atau kejadian yang berpotensi menimbulkan KKMMD/PHEIC. Kemampuan tersebut harus dilaksanakan secara terpadu oleh berbagai Lintas Sektor, untuk itu diperlukan koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait di tingkat pusat maupun daerah.

 

Untuk itu, menurut dr. Subuh koordinasi yang terbangun dengan baik dalam mengantisipasi penyakit virus Zika sangat diperlukan dalam kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi penyakit ini. Pembagian peran dan wewenang antara pusat dan daerah beserta jajarannya diperlukan dalam mencegah dan mengendalikannya. Oleh sebab itu, kegiatan pertemuan sosialisasi pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit virus Zika yang dilaksanakan saat ini sangat penting.  

 

“Saya yakin melalui sosialisasi ini pemikiran, masukan dan kerja Saudara akan berkontribusi dalam mengawal program pencegahan dan pengendalian penyakit virus Zika di Indonesia dan Global. Pedoman ini bersifat interim yang akan selalu dilakukan pembaruan sesuai dengan situasi terkini penyakit virus Zika,” ujar dr. Subuh di akhir sambutannya.(Adt/Humas)