PENCARIAN
Kategori
WEBSITE TERKAIT
DOWNLOAD
Edaran
Aplikasi
e-library
Presentasi
Undangan
VIDEO KEGIATAN

Video Kegiatan PP & PL
FORUM

Jl. Percetakan Negara No. 29, Kotak Pos 223, Jakarta 10560 - Indonesia


Phone : 62214247608
Fax : 62214247807

BERITA - FOCUS TODAY

Pre-Training Meeting Pelembagaan Sanitasi Pedesaan dalam Mendukung Program STBM ke Dalam Sistem Pendidikan Poltekes
2013-05-30 17:13:51

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerjasama dengan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (Badan PPSDM) Kemenkes RI dan Water and Sanitattion Program (WSP), pada 27 hingga 29 Mei 2013 yang bertempat di Hotel Sari Ater Subang Bandung, menyelenggarakan Pre-Training Meeting Pelembagaan Pengembangan Kapasitas Sanitasi Pedesaan di Indonesia untuk mendukung program pembangunan sanitasi secara terstruktur dan terlembaga ke dalam sistem pendidikan Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.

 

Pertemuan yang merupakan langkah awal untuk mengintegrasikan dukungan institusi pengembangan SDM kesehatan, khususnya Politeknik Kesehatan, dalam mendukung program Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ini diikuti oleh 24 orang peserta yang berasal dari Subdit Penyehatan Air, Ditjen PP dan PL; Sekretariat STBM, Ditjen PP dan PL; Pusdiklatnakes, Badan PPSDM Kemenkes RI; Direktur dan Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan, beberapa dosen dari Poltekes Kemenkes Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali; Ketua Forkom Kesling; dan Water Sanitation Program (WSP) serta Dinas Kesehatan Subang yang mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Pertemuan ini juga dibuka secara resmi oleh Direktur Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI,drh. Wilfred H. Purba, MM, M.Kes, pada malam hari, 27 Mei 2013.

 

Tujuan dari pertemuan ini sendiri, menurut Kasubag Pelatihan, Pusdiklatnakes Badan PPSDM Kemenkes RI, Fermona saat menyampaikan laporan panitia pelaksaanaan pertemuan Pre-Training Meeting Pelembagaan Pengembangan Kapasitas Sanitasi Pedesaan di Indonesia pada malam pembukaan pertemuan adalah untuk mengkonsolidasi peran PL, PPSDM dan Poltekes, Kemenkes dalam mengembangkan kopetensi tenaga kesehatan lingkungan yang dibutuhkan untuk mendukung program STBM.

 

Seperti yang diketahui, kata Fermona dalam laporannya bahwa capaian akses sanitasi, khususnya sanitasi perdesaan baru mencapai 39% dan masih jauh dibawah target MDG yaitu sebesar 56%. Hal ini dikarenakan salah satu kendalanya adalah masih kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten untuk mendukung program STBM, baik sebagai fasilitator lapangan, fasilitator sosial, fasilitator perubahan perilaku maupun fasilitator teknik sanitasi. Dimana berdasarkan studi Bappenas dan Bank Dunia telah menunjukkan bahwa adanya kebutuhan sekitar 12.000 tenaga sanitasi yang berkompeten dalam waktu dekat untuk mendukung pencapaian program STBM. Sehingga untuk mengisi kekurangan tenaga berkompeten tersebut, PPSDM bersama dengan UPT Poltekes, khususnya jurusan Kesehatan Lingkungan mendukung upaya Ditjen PP dan PL Kemenkes untuk mengembangkan SDM dalam mendukung pencapaian program nasional STBM.

 

Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI drh. Wilfred H. Purba, MM, M.Kes dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara pertemuan mengatakan bahwa kebutuhan akan tenaga sanitarian dari tahun ke tahun haruslah terus meningkat dan berdasarkan pada data WHO, kebutuhan tenaga terlatih di bidang sanitasi adalah 23 tenaga kesehatan terlatih per 10.000 dan sekarang saat ini Kemenkes RI hanya mempunyai 18.000 tenaga sanitarian dari 900.000 tenaga kesehatan di seluruh Indonesia seperti dokter, bidan, sanitarian, perawat dan lain sebagainya. “Dan kita tahu bahwa posisi sanitarian juga terjadi disparitas, dimana ada yang jumlahnya banyak sanitariannya, ada juga yang kosong tidak ada sama sekali ini juga menjadi tantangan kita di dalam pendistribusian tenaga sanitarian”, ujar drh. Wilfred. 

 

Untuk itu, dalam rangka mempercepat pencapaian MDG dan RPJMN pada tahun 2008 pemerintah menetapkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai kebijakan nasional untuk mempercepat pembangunan sanitasi di Indonesia. Dimana program STBM ini mengedepankan pendekatan perubahan perilaku hygien dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat untuk mencapai lima pilar STBM yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan Air Minum di Rumah Tangga, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga. Pendekatan yang di pakai dalam program STBM ini tidak hanya digunakan oleh Kementerian Kesehatan, akan tetapi kementerian-kementerian terkait lainnya seperti Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Dalam Negeri juga menggunakan pendekatan ini untuk melaksanakan program pemerintah dalam penyediaan air minum dan sanitasi yang layak untuk masyarakat. “Saya juga ingin menyampaikan bahwa berdasarkan pada Kepmenkes 852 Tahun 2008 tentang penyelenggaran STBM. Dimana ini membutuhkan pendekatan, tapi ini bukan merupakan pendekatan yang berbentuk memberikan subsidi, ini adalah non subsidi, jadi kita melakukan pemicuan tidak memberikan dalam bentuk-bentuk bantuan seperti pemberian jamban”, ungkap drh. Wilfread di sela-sela sambutannya.

 

Pelaksanaan STBM tentunya pendekatannya adalah perubahan perilaku. Sebagaimana teori Blum mengatakan perilaku mempunyai peranan yang penting untuk mencegah terjadinya penyakit, selain fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk juga lingkungan dan genetiknya. Dimana peranan untuk perilaku terjadinya penyakit dan mencegahnya sebesar 60%.

 

Maka dari itu, Direktur Penyehatan Lingkungan drh. Wilfread sangat menyambut baik dengan adanya gagasan yang cukup baik yang diprakasai oleh WSP, bagaimana menitipkan pendekatan STBM ini ke dalam kurikulum di Politeknik Kesehatan (Poltekes) untuk pembekalan para sanitarian atau tenaga kesehatan agar dapat mengetahui lebih mendalam pendekatan STBM ini. Yang dimana pelaksanaanya akan dilaksanakan pada bulan September tahun 2014 untuk kurikulum 2013-2014 dan akan di evaluasi di bulan Oktober tahun 2014.

 

Peran Poltekes di dalam Kementerian Kesehatan terutama PPSDM inilah yang perannya tentu kita harapkan bagaimana dapat mengadop pendekatan STBM ini di dalam kurikulum dan mengemasnya di dalam kurikulum. Agar bekal STBM ini bisa diterima atau diadopsi oleh mahasiswa-mahasiswa Poltekes yang nantinya akan terjun di masyarakat, Jadi Mahasiswa mempunyai maindest kedepan bahwa tidak benar memberikan jamban itu yang akan otomatis digunakan masyarakat, tapi harus ada proses-proses pemicuan dan proses-proses yang dilaluinya, terang drh. Wilfread.

 

Untuk mendukung terwujudnya inisiatif tersebut, maka diperlukan langkah-langkah strategis pengintegrasian STBM ke dalam sistem pendidikan Poltekes. Dimana pada pertemuan tersebut para peserta secara langsung melakukan peninjauan di lapangan untuk melihat secara langsung pelaksanaan dan dampak STBM ke masyarakat. Dimana ada dua lokasi yang dikunjungi yaitu lokasi desa yang sudah berhasil mencapai Stop Buang Air Besar Sembarangan yaitu Warga Penduduk Dusun IV RT 15, 16 Desa Ciater dan lokasi desa yang masih melakukan pemicuan yaitu desa Cinta Mekar RT 13, 14, 15 dan 16. Para peserta dapat secara langsung membandingkan kedua desa tersebut. Dengan harapan desa yang sudah Stop Buang Air Besar Sembarangan ini diharapkan bisa menjadi pembelajaran bersama untuk interpensi di desa-desa yang belum Stop Buang Air Besar Sembarangan. Selain itu para peserta juga bisa langsung praktek di lapangan seperti mengamati proses pemicuan yang dilakukan di masyarakat dengan teknik pemetaan, dialog atau interview kepada pelaksana-pelaksana dilapangan yang terkait program STBM dan tokoh-tokoh kunci yang sudah berhasil Stop Buang Air Besar Sembarangan serta melakukan kunjungan ke rumah-rumah masyarakat di desa Ciater. Yang pada akhirnya para peserta dapat menyusun Rencana Tindak lanjut sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang di dapat.