PENCARIAN
Kategori
WEBSITE TERKAIT
DOWNLOAD
Edaran
Aplikasi
e-library
Presentasi
Undangan
VIDEO KEGIATAN

Video Kegiatan PP & PL
FORUM

Jl. Percetakan Negara No. 29, Kotak Pos 223, Jakarta 10560 - Indonesia


Phone : 62214247608
Fax : 62214247807

BERITA - FOCUS TODAY

Perkembangan Penyakit Hipertensi di Indonesia
2013-04-08 10:58:02

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Prevalensi hipertensi tertinggi di provinsi Kalimantan Selatan (39,6%) dan terendah di Papua Barat (20,1%). Provinsi Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Bangka Belitung, Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Barat, merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka Nasional. Untuk kabupaten/kota yang terendah adalah jayawijaya 6,78% dan tertinggi Natuna 53,3%.

 

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE saat menyampaikan perkembangan penyakit Hipertensi di Indonesia.

 

Prof. Tjandra menuturkan bahwa Hipertensi saat ini telah menduduki peringkat ke 7 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di Rumah sakit setelah Diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi), Demam berdarah dengue, Demam tifoid dan paratifoid, Penyulit kehamilan dan persalinan lainnya, Cedera YDT lainnya YTT dan daerah badan Multipel dan Dispepsia.

 

Hipertensi atau tekanan darah tinggi  adalah suatu keadaan di mana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg (Joint National Committe on Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Pressure VII/ JNC-VII, 2003), kata Prof. Tjandra. 

 

Prof. Tjandra menambahkan, kini juga berkembang kriteria diagnosis lain dari beberapa organisasi internasional yang ada.

 

Berikut Tabel Klasifikasi hipertensi menurut JNC-VII Tahun 2003.

 

Tabel 1Klasifikasi hipertensi menurut JNC-VII 2003

 

                    Kategori

             TDS (mmHg)    

      TDD (mmHg)

Normal

Pre-hipertensi

Hipertensi tingkat 1

Hipertensi tingkat 2

             < 120     dan

         120 – 139   atau

         140 – 159   atau

             ≥ 160     atau

          < 80

        80 – 89

        90 – 99

          ≥ 100    

Hipertensi Sistolik Terisolasi

             ≥ 140     dan

          <   90    


 
(Joint National Committe on Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Pressure VII
/ JNC-VII, 2003).

 

Lebih lanjut Prof. Tjandra menegaskan bahwa dalam DIAGNOSIS HIPERTENSI, tidak semua penderita hipertensi mengenali atau merasakan keluhan maupun gejala,sehingga hipertensi sering dijuluki sebagai pembunuh diam-diam (silent killer).


Keluhan-keluhan yang tidak spesifik pada penderita hipertensi antara lain sakit kepala, gelisah,  jantung berdebar-debar, pusing, penglihatan kabur, rasa sakit didada, mudah lelah, dan lain-lain.

 

Sedangkan, gejala akibat komplikasi hipertensi yang mungkin dijumpai adalah gangguan penglihatan, gangguan saraf, gangguan jantung, gangguan fungsi ginjal dan gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan kejang, perdarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma.

 

“Diagnosis hipertensi ditegakkan bila tekanan darah ≥140/90 mmHg,  bila salah satu baik, maka sistolik maupun diastolik yang meningkat sudah cukup untuk menegakkan diagnosis hipertensi”, ujar Prof. Tjandra.

 

Penatalaksanaan Hipertensi menurut Prof. Tjandra adalah Pengelolaan hipertensi yang meliputi upaya non farmakologis dan farmakologis. Upaya non farmakologis meliputi modifikasi gaya hidup dengan pengendalian faktor risiko yang dapat menurunkan tekanan darah atau menurunkan ketergantungan penderita hipertensi terhadap penggunaan obat-obatan. Upaya farmakologis umumnya dilakukan dengan pemberian obat-obatan anti hipertensi di fasilitas pelayanan dasar dan dapat ke fasilitas pelayanan sekunder.

 

Prof. Tjandra juga menyampaikan bahwasannya Hipertensi krisis adalah merupakan peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi, dimana tekanan diastolik melebihi 120-130 mmHg.Walaupun penatalaksaan hipertensi krisis seyogyanya dilakukan di rumah sakit oleh dokter spesialis, namun tenaga medis di Puskesmas dan di pelayanan primer perlu tahu apa yang mesti dilakukan sebelum merujuk penderita ke rumah sakit. 

 

Selain itu, Hipertensi krisis, kata Prof. Tjandra terdiri dari  hipertensi emergensi dan urgensi. Dimana Hipertensi Emergensi adalah keadaan dimana terdapat tanda-tanda kerusakan organ target, yang memerlukan penurunan tekanan darah sesegera mungkin untuk membatasi atau menghindari  kerusakan organ target lebih lanjut. Keadaan yang dapat menyertai hipertensi emergensi yaitu Hipertensi Ensefalopati, Kejadian Intrakranial Akut, Gagal Jantung Kiri Akut, Sindroma Koroner Akut (angina tidak stabil/infark miokard akut), Diseksi Aorta Akut, Krisis Feokromositom dan Eklamsia.

 

Penanganan pertama hipertensi emergensi seharusnya dilakukan di rumah sakit dan idealnya di ruang rawat intensif dengan pemberian obat antihipertensi intravena. Pengobatan ditujukan untuk menurunkan tekanan arteri rerata (mean arterial pressure) tidak lebih dari 25% (dalam waktu beberapa menit sampai 2 jam), atau menurunkan tekanan darah sampai kira-kira 160/100 mmHg dalam 2-6 jam. Pada penderita hipertensi yang disertai Aneurisma dissecansacute atau edema paru akut, penurunan tekanan darah yang dapat dilakukan dalam 5 sampai 10 menit, jelas Prof. Tjandra.

 

Sedangkan yang terakhir mengenai Hipertensi urgensi menurut Prof. Tjandra adalah keadaan dimana tidak terdapat tanda-tanda kerusakan organ target. Penurunan tekanan darah dilakukan bertahap, dengan terapi oral dalam 24-48 jam. Kedaan yang dapat menyertai hipertensi urgensi antara lain Accelerated and malignant hypertension, Hipertensi pasca bedah, Hipertensi yang tidak terkontrol (pada penderita yang membutuhkan operasi akut) dan Hipertensi yang disertai penyakit jantung koroner.

 

Demikian disampaikan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama dari Jakarta.